Minggu, 11 Juli 2010

Futhuuhul Ghaib ..... ~ Syeikh Abdul Qadir Jailani ~

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:

Risalah ke satu

Ia bertutur: Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, yaitu: (1) harus menjaga perintah-perintah Allah, (2) harus menghindar dari segala yang haram, (3) harus ridha dengan takdir Yang Maha Kuasa. Jadi seorang Mukmin, paling tidak, memiliki tiga hal ini. Berarti, ia harus memutuskan untuk ini, dan berbicara dengan diri sendiri tentang hal ini serta mengikat organ-organ tubuhnya dengan ini.

Risalah ke dua

Ia bertutur : Ikutilah (Sunnah Rasul) dengan penuh keimanan, jangan membuat bid'ah, patuhilah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar; junjung tinggilah tauhid dan jangan menyekutukan Dia; sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbatkan sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan menunjukkan ketidaksabaran. Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah. Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan berpecah-belah. Saling mencintailah dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya. Percantiklah dirimu dengan ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya. Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu, baik siang maupun malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu, maka kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di surga dan tinggal di dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dengan hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya wanita, dengan karunia-karunia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para shiddiq, para syahid, dan para shaleh di surga yang tinggi.

Risalah ke tiga

Ia bertutur: Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.

Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian terkecewakan terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaandan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkaruniailah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha, bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya; makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperoleh petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.

Risalah ke empat

Ia bertutur: Bila kamu abaikan ciptaan, maka: "Semoga Allah merahmatimu," Allah melepaskanmu dari kedirian, "Semoga Allah merahmatimu," Ia mematikan kehendakmu; "Semoga Allah merahmatimu," maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).

Kini kau terkaruniai kehidupan abadi; diperkaya dengan kekayaan abadi; dikaruniai kemudahan dan kebahagiaan nan abadi, dirahmati,dilimpahi ilmu yang tak kenal kejahilan; dilindungi dari ketakutan; dimuliakan, hingga tak terhina lagi; senantiasa terdekatkan kepada Allah, senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahasiakan.

Maka, kau menjadi pengganti para Rasul, para Nabi dan para shiddiq. Kaulah puncak wilayat, dan para wali yang masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan sawah ladang terpaneni melalui do'amu; dan sirnalah melalui do'amu, segala petaka yang menimpa orang-orang di desa terpencil pun, para penguasa dan yang dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dengan demikian kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan masyarakat.

Orang-orang bergegas-gegas mendatangimu, membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu, dalam segala kehidupan, dengan izin sang Pencipta segalanya. Lidah mereka senantiasa sibuk dengan doa dan syukur bagimu, di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin berselisih tentangmu. Duhai, yang terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik segala rahmat.

Risalah kelima

Ia bertutur: Bila kau melihat dunia ini, berada di tangan mereka, dengan segala hiasan, dan tipuannya, dengan segala bisa mematikannya, yang tampak lembut sentuhannya, padahal, sebenarnya mematikan bagi yang menyentuhnya, mengecoh mereka, dan membuat mereka mengabaikan kemudharatan tipu daya dan janji-janji palsunya - bila kau lihat semua ini - berlakulah bagai orang yang melihat seseorang menuruti nalurinya, menonjolkan diri, dan karenanya, mengeluarkan bau busuk. Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memperhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bagianmu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya. Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS.20 -Thaaha :131).

Risalah keenam

Ia bertutur: Lenyaplah dari (pandangan) manusia, dengan perintah Allah, dan dari kedirian, dengan perintah-Nya, hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari manusia, ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka, dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah, membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dengan mereka demi sesuatu manfaat, menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi, dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yang berkenaan dengan dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah, karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhirnya; sebagaimana kuasaNya, ketika kau masih disusui.

Hilangnya kemauanmu dengan kehendakNya, ditandai dengan katak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki, kecuali satu, yaitu Allah. Maka, kehendak Allah mewujud dalam dirimu, sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah organ-organ tubuh, hati pun tenang, pikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dengan Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu, dan membusanaimu dengan nurNya dan busana ruhani, dan mendapatkanmu sejajar dengan para ahli hikmah yang telah mendahuluimu.

Sesudah ini, kau selalu berhasil menaklukkan diri, hingga tiada lagi pada dirimu kedirian, bagai sebuah bejana yang hancur lebur, yang bersih dari air, atau larutan. Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi, hingga ruhanimu menolak segala sesuatu, kecuali kehendak Allah. Pada maqam ini, keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu, padahal sebenarnya dari Allah.

Maka kau diakui sebagai orang yang hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yang kusenangi dari dunia - wewangian, wanita dan shalat - yang pada mereka tersejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yang patah hati demi Aku."

Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu, sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu, dan memberimu kekuatan baru, yang dengan itu, kau berkehendak. Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil pun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dengan cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa) dengan Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yang putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasihkukuhan dan kemasih puasan dengan keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yang beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku, dengan mengerjakan shalat-shalat sunnah yang diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya, dengannya ia mendengar, dan menjadi matanya, dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya, dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya, dengannya ia berjalan." Tak dir agukan lagi, beginilah keadaan fana.

Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudra kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaigus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak pribadi kepada kehendak Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yang diturunkan dari badala, yang berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini, menggabungkan kehendak pribadi dengan kehendak Allah, adalah suatu dosa.

Bila mereka lalai, terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan, maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dengan kasih sayangNya, dengan mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak, kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yang dibebani pertanggung jawaban moral, tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka berkecenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.

Risalah ketujuh

Ia bertutur: Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasarahkanlah segala sesuatu kepada Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dengan menjauhkan segala yang diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu, setelah keterbuanganmu. Mengusir kedirian dari hati, haruslah disertai pertahanan terhadapnya, dan menolak pematuhan kepadanya dalam segala keadaan. Mengizinkan ia masuk ke dalam hati, berarti rela mengabdi kepadanya, dan berintim dengannya. Maka, jangan menghendaki segala yang bukan kehendak Allah. Segala kehendak yang bukan kehendak Allah, adalah kedirian, yang adalah rimba kejahilan, dan hal itu membinasakanmu, dan penyebab keterasingan dari-Nya. Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, berpasrahlah selalu kepada-Nya dalam segala yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia dengan sesuatu pun. Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang musyrik. Allah berfirman: "Barang siapa mengharap penjumpaan (liqa) dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukanNya." (QS 18.Al Kahfi: 110)

Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani, dan menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik. Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah, jangan terlena. Maka dengan menyendiri, akan diperoleh keamanan. Jangan menganggap dan mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu, berkat kau sendiri. Maka, bila kau berkedudukan, atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari, keagungan Allah mewujud, dan Allah mengantarai hamba-hambaNya dan hati-hati mereka. Bisa-bisa yang kau percakapkan, sirna darimu, dan yang kau anggap abadi, berubah, hingga kau termalukan di hadapan yang kau ajak bicara. Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu, dan jangan perbincangkakn dengan orang lain. Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan. Allah berfirman: "Segala yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya, atau yang sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 2.Al Baqarah: 106)

Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap ketetan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan kepadanya, dan yang dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid, dan termaktub di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah. Ia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu berlindung dan berpaling kepada Allah. Karena, dengan begini, ada pengakuan akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan, dan yang dimilikinya sebagai pusaka dari Adam as., 'bapak' manusia, dan pilihan Allah.

Berkatalah Adam a.s.: "Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS. 7.Al-A'raaf: 23). Maka turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan tentang hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu Allah berpaling kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa bertaubat.

Dan Allah mengembalikannya ke hal semua, dan beradalah ia pada peringkat wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat. Maka menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya, sedang akhirat sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka, ikutilah Nabi Muhammad Saw., kekasih dan pilihan Allah, dan nenek moyangnya, Adam, pilihan-Nya - keduanya adalah kekasih Allah - dalam hal mengakui kesalahan dan berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu' dalam segala keadaan kehidupan.

Risalah kedelapan

Ia bertutur: Bila kau berada dalam hal tertentu, jangan mengharapkan hal yang lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Jadi bila kau berada di pintu gerbang istana Raja, jangan berkeinginan untuk masuk ke istana itu, kecuali terpaksa. Yang dimaksud dengan terpaksa ialah diperintah terus-menerus. Dan jangan menganggapnya sebagai izin masuk, karena mungkin saja Raja menjebakmu. Tapi, bersabarlah, sampai kau benar-benar dipaksa memasukinya oleh sang Raja. Dengan demikian, sang Raja takkan menghukummu, karena Dia sendiri menghendakinya. Jika kau toh dihukum, tentu disebabkan oleh keburukan kehendak, kerakusan, ketaksabaran, kekurangajaran, dan keinginanmu untuk berpuas dengan keadaan kehidupanmu. Bila kau harus masuk ke dalamnya karena terpaksa, masuklah dengan penuh ketenangan dan ketundukan pandangan, bersikaplah yang layak dan indahkanlah semua perintah-Nya dengan sepenuh jiwa tanpa mengharapkan kemajuan dalam tingkat kehidupan. Allah berfirman kepada Rasul pilihan-Nya : "Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai hiasan hidup, untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan abadi." (QS 20. Thaahaa: 131)

Dengan firman-Nya: "Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan abadi". Allah memperingatkan Nabi pilihan-Nya, agar menghargai hal yang ada, dan mensyukuri karunia-karunia-Nya. Dengan kata lain, perintah ini adalah sebagai berikut: "Segala yang telah Aku karuniakan kepadamu - kebaikan, kenabian, ilmu, keridhaan, kesabaran, kerajaan agama, dan jihad di jalanKu - lebih baik dan lebih berharga ketimbang semua yang Kuberikan kepada yang lain." Jadi, segala kebaikan terletak pada menghargai dan mensyukuri keadaan yang ada, dan menghindarkan selainnya, karena hal semacam itu merupakan cobaan dari-Nya. Jadi bila sesuatu telah ditentukan-Nya bagimu, tentu sesuatu itu akan datang kepadamu, suka atau tidak suka. Karenanya, sungguh tak patut, bila kekuranglayakan dan kerakusan terwujud padamu, kedua-duanya tertolak oleh akal dan ilmu. Dan jika sesuatu itu ditakdirkan-Nya bagi orang lain, mengapa kau bersusah payah meraih sesuatu yang tak bisa kau raih? Dan jika sesuatu tak diturunkan-Nya kepada siapapun, hanya sebagai cobaan, mana mungkin seorang arif menyukainya dan berupaya keras meraih itu? Terbuktilah, bahwa seluruh kebaikan dan keselamatan terletak pada menghargai keadaan yang ada. Maka, bila kau dinaikkan ke tingkat atas, sampai ke atap istana, maka kau sebagaimana telah kami nyatakan, mesti sadar diri, tenang, dan baik-laku. Kau mesti berbuat lebih dari ini, sebab kau kini lebih dekat kepada sang Raja, dan lebih dekat kepada marabahaya.

Maka, jangan menginginkan perubahan keadaan yang ada padamu. Nah, kau tak punya pilihan dalam masalah ini, sebab hal itu mendorong ketakbersyukuran atas rahmat-rahmat yang ada, dan cita semacam ini menjadikan terhina, baik di dunia maupun di akhirat. Maka berlakulah sebagamana yang telah kami nasihatkan kepadamu, sampai kau dikarunia oleh Allah maqam yang teguh, dan takkan tergoyahkan dengan segala tanda dan isyaratnya. Karena itu, tambatkanlah padanya dan jangan biarkan dirimu lepas darinya. (Keadaan perubahan ruhani) adalah milik para wali, sedang maqam (peringkat ruhani) adalah milik para badal.

Risalah kesembilan

Ia bertutur:

KehendakNya terwujud, secara kasyf (penglihatan ruhani) dan musyahida (pengalaman-pengalama ruhani), pada para wali dan badal, yang tak terjangkau nalar manusia dan kebiasaan. Perwujudan ini terbentuk: jalal (keagungan), dan jamal (keindahan). Jalal menghasilkan kegelisahan, pemahaman yang menggundahkan, dan sedemikian menguasai hati, sehingga gejala-gejalanya tampak pada jasmani. Diriwayatkan bila Rasulullah shalat, dari hatinya terdengar gemuruh, bak air mendidih di dalam ketel, karena intensitas ketakutan yang timbul dari penglihatan beliau akan Kekuasaan dan KebesaranNya. Diriwayatkan bahwa pilihan Allah, Nabi Ibrahim as dan Umar sang Khalifah ra, juga mengalami keadaan yang serupa.

Mengalami perwujudan keindahan Ilahi merupakan refleksiNya pada hati manusia yang mewujudkan nur, keagungan, kata-kata manis, ucapan penuh kasih-sayang, dan kegembiraan atas kelimpahan keruniaNya, maqam yang tinggi, dan keakraban denganNya -- yang kepadaNya segala urusan mereka kembali -- dan atas takdir yang telah ditetapkanNya jauh di masa lampau. Inilah karunia dan rahmatNya, dan pengukuhan atas mereka di dunia ini, sampai waktu tertentu. Ini dilakukan agar mereka tak melampaui kadar cinta yang layak dalam keinginan mereka akan hal itu, dan karenanya, hati mereka takkan berputus asa, kendati mereka jumpai berbagai hambatan atau bahkan terkulaikan oleh hebatnya ibadah mereka sampai datangnya kematian. Ia melakukan ini berdasarkan kelembutan, kasih sayang dan kehormatan, juga untuk melatih agar hati mereka lembut, karena Dia bijaksana, mengetahui, lembut terhadap mereka. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. Sering berkata kepada Hadhrat Bilal sang muadzin: "Wahai Bilal, gembirakanlah hati kami," Maksud beliau, hendaklah ia serukan azan agar beliau bisa shalat, guna merasakan perwujudan-perwujudan rahmat Ilahi, sebagaimana telah kita bicarakan. Itulah sebabnya Nabi saw bersabda: "Dan mataku sejuk, bila aku shalat."

Risalah kesepuluh

Ia bertutur: Sungguh tiada sesuatu, kecuali Allah, sedang dirimu adalah tandanya. Kedirian manusia bertentangan dengan Allah. Segala suatu patuh kepada Allah dan milik Allah, demikian pula dengan kedirian manusia, sebagai makhluk sekaligus milikNya. Kedirian manusia itu pongah, darinya tumbuh dambaan-dambaan palsu. Nah, jika kau menyatu dengan kebenaran, dengan menundukkan dirimu sendiri, maka kau menjadi milik Allah dan menjadi musuh dirimu sendiri. Allah telah bersabda kepada Nabi Daud as: "Wahai Daud, Akulah tujuan hidupmu, yang tak mungkin kau elakkan. Karenanya berpegangteguhlah kepada tujuan yang satu ini; beribadahlah sebenar-benarnya, sampai kau menjadi lawan keakuanmu, semata-mata karena Aku." Maka keakrabanmu dengan Allah dan pengabdianmu kepadaNya menjadi kenyataan. Lalu kau peroleh bagianmu nan suci sungguh menyenangkan. Dengan demikian kau dicintai dan terhormat, dan segala sesuatu mengabdi dan takut kepadamu, karena semua tunduk kepada Tuhan mereka, dan selaras denganNya, karena Dia adalah Pencipta mereka, dan mereka mengabdi kepadaNya.

Firman Allah: "Dan tak ada sesuatu pun melainkan bartasbih memujiNya, tetapi kamu tak mengerti tasbih mereka." (QS 17:44). Maka segala sesuatu di alam raya ini menyadari keridhaanNya, dan menaati perintah-perintahNya. Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung berfirman: "Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Hendaklah kamu berdua datang dengan suka ataupun terpaksa', Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.'" (QS 41:11). Jadi, segala pengabdian kepadaNya terletak pada penentangan terhadap kedirian. Allah berfirman: "Dan janganlah engkau turuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS 38:26). Ia juga berfirman: "Hindarilah hawa nafsumu, karena sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang menentangKu di seluruh kerajaanKu, kecuali nafsu jasmani manusia." Suatu ketika Abu Yazid Bustami bermimpi bertemu Allah, dan bertanya kepadaNya: "Bagaimana cara menjumpaiMu ?" JawabNya: "Buanglah keakuanmu dan berpalinglah kepadaKu". "Lalu", lanjut sang Sufi, "aku keluar dari diriku bagai seekor ular keluar dari selongsong tubuhnya." Jadi, segala kebajikan terletak pada memerangi kedirian dalam segala hal dan segala keadaan. Karena itu, jika berada pada kesalehan, tundukkanlah kedirian, hingga kau terbebas dari hal-hal terlarang dan syubhat *) dari pertolongan mereka, dari ketergantungan kepada mereka, dari rasa takut terhadap mereka atau dari rasa iri terhadap milikan duniawi mereka. (* Syubhat: sesuatu yang meragukan ihwal halal atau haramnya). Lalu jangan mengharapkan sesuatu dari mereka, baik hadiah, kemurahan, atau pun sedekah. Karenanya bila kau bergaul dengan seorang kaya, jangan mengharapkan kematiannya demi mewarisi hartanya,. Maka, bebaskanlah dirimu dari ikatan makhluk, dan anggaplah mereka itu pintu gerbang yang membuka dan menutup., atau pohon yang kadang berbuah dan kadang tidak. Ketahuilah, peristiwa semacam itu terjadi oleh satu pelaksana, dirancang oleh satu perancang, dan Dialah Allah, sehingga kau beriman pada Keesaan Allah.

Jangan pula melupakan upaya manusiawi, agar tak menjadi korban keyakinan kaum fatalis (Jabariyyah), dan yakinlah bahwa tak suatu pun terwujud, kecuali atas izin Allah Ta'ala. Karena itu, jangan Anda puja upaya manusiawi, karena yang demikian ini melupakan Tuhan, dan jangan berkata bahwa tindakan-tindakan manusia berasal dari sesuatu. Bila demikian, berarti kau tak beriman, dan termasuk dalam golongan Qadariyah. Hendaknya kau katakan, bahwa segala aksi makhluk adalah milik Allah, inilah pandangan yang telah diturunkan kepada kita lewat keterangan-keterangan yang berhubungan dengan masalah pahala dan hukuman.

Dan laksanakan perintah-perintah Allah yang berkenaan dengan mereka (manusia), dan pisahkanlah bagianmu sendiri dari mereka dengan perintahNya pula, dan jangan melampaui batas ini, karena hukum Allah itu pasti menentukanmu dan mereka; jangan menjadi penentu diri sendiri. Kemaujudanmu bersama mereka merupakan takdirNya. TakdirNya merupakan 'kegelapan', maka masukilah 'kegelapan' ini dengan pelita sekaligus penentu; yaitu Kitab Allah (Al Qur'an) dan Sunnah Rasul. Jangan tinggalkan kedua-duanya. Tapi bila di dalam pikiranmu melintas suatu gagasan, atau kau menerima ilham, maka tundukkanlah mereka kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul.

Bila kau dapati larangan dari Al Qur'an dan Sunnah Rasul tentang yang terlintas pada benakmu dan yang kau terima melalui ilham, maka kau mesti menjauhi gagasan dan ilham semacam itu. Yakinilah bahwa gagasan dan ilham itu berasal dari setan yang terlaknat. Dan jika Kitab Allah dan Sunnah Rasul membolehkan gagasan dan ilham itu - semisal pemenuhan keinginan-keinginan yang dibolehkan hukum, seperti makan, minum, berpakaian, menikah, dan lain-lain - maka jauhilah pula gagasan dan ilham itu, jangan menerimanya. Ketahuilah, hal itu merupakan dorongan hewanimu, karenanya, tentanglah dan musuhilah hal itu.

Bila kau dapati tiadanya larangan atau pembolehan di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul, tentang yang kau terima, dan kau tak mengrti -semisal kau diminta pergi ke tempat tertentu, atau menemuhi seseorang yang saleh, padahal melalui karunia ilmu dan pencerahan dari Allah kepadamu, kau tak perlu pergi ke tempat itu, atau menemui si orang saleh itu maka bersabarlah, jangan dulu melakukan sesuatu, dan bertanyalah kepada dirimu sendiri: "Benarkah ini ilham dari Allah dan mesti aku laksanakan ?" Adalah Sunnah Allah, mengulang-ulang ilham semacam itu, dan memerintahkanmu untuk segera berupaya atau menyibakkan isyarat semacam itu bagi para ahli hikmah - suatu isyarat yang hanya bisa dimengerti oleh para wali yang arif dan para badal yang teguh. Karena itu, kau mesti tak segera berbuat, sebab kau tak tahu akibat dan tujuan akhir urusan, cobaan, bahaya dan sesuatu rancangan gaib dariNya.

Maka bersabarlah, sampai Allah Sendiri melakukannya bagimu. Bila tindakan itu atas kehendakNya, dan kau diantarkn ke maqam itu, maka bila cobaan menghadangmu, kau akan melewatinya dengan selamat, karena Allah takkan menghukummu atas tindakan yang dikehendakiNya sendiri, namun Ia akan menghukummu atas keterlibatan langsungmu dalam kemaujudan suatu hal.

Menaati perintah itu meliputi dua hal. Pertama, mengambil dari sarana penghidupan duniawi sebatas keperluanmu, dan mesti menghindari segala pemanjaan kesenangan jasmani, rampungkanlah semua tugas-tugasmu, dan ikatlah dirimu kepada penghalauan segala dosa, yang nyata dan yang tersembunyi. Kedua, berhubungan dengan perintah-perintah-perintah tersembunyi, yakni Allah tak menyruh hambaNya untuk mengerjakan sesuatu, dan tak pula melarangnya. Perintah seperti ini berkaitan dengan hal-hal yang padanya tak ada hukum yang jelas; yakni hal-hal yang tak tergolong terlarang dan tak terwajibkan, dengan kata lain 'tak jelas', yang di dalamnya manusia diberi kebebasan penuh untuk bertindak, dan hal ini disebut mubah. Dalam hal ini tak boleh mengambil prakarsa, tetapi menunggu perintah yang bertalian dengannya. Bila menerima perintah itu, ia taati. Dengan demikian semua gerak dan diamnya menjadi demi Allah.

Jika ada kejelasan hukumnya, ia bertindak selaras dengannya. Bila tak ada kejelasan hukumnya, ia bertindak atas dasar perintah-perintah tersembunyi. Melalui ini, ia menjadi seteguh orang memperoleh hakikat. Bila kau telah sampai pada kebenarannya kebenaran, yang disebut pencelupan (mahwu) atau peleburan (fana), berarti kau berada pada maqam badal yang patah hati demi Dia, suatu keadaan yang dimiliki muwahhid, oarang yang tercerahkan ruhaninya, orang arif, yang adalah amir para amir, pengawas dan pelindung umat, khalifah dati Yang MahaPengasih, kepercayaanNya (alaihimussalam).

Untuk menaati perintah, kau harus melawan kedirianmu, dan bebas dari ketergantunagn kepada segala kemampuan dan kekuatan, dan mutlak harus terhindar dari segala kemauan dan tujuan duniawi dan ukhrawi. Dengan demikian, kau menjadi abdi Sang Raja, bukan abdi kerajaanNya, bukan abdi perintahNya, bukan pula abdi kedirian. Kau seperti bayi dalam asuhan alam, atau mayat yang dimandikan, atau pasien tak sadarkan diri di hadapan sang dokter, dalam segala hal yang berada di luar wilayah perintah dan larangan.

Risalah kesebelas

Ia bertutur:

Apabila timbul di dalam benakmu keinginan untuk kawin, padahal kau fakir dan miskin, dan kau tak mampu memenuhinya, maka bersabarlah dan berharaplah senantiasa akan kemudahan dari-Nya, yang membuatmu berkeinginan seperti itu, atau yang mendapati keinginan semacam itu di dalam hatimu, niscaya Ia akan menolongmu, (entah dengan menghilangkan keinginan itu darimu) atau dengan memudahkanmu menanggung beban hidupmu itu, dengan mengaruniaimu kecukupan, mencerahkanmu dan memudahkanmu di dunia dan akhirat. Lalu Allah akan menyebutmu sabar dan mau bersyukur, karena kesabaranmu dan keridhaanmu atas ketentuan-Nya. Maka ditingkatkan-Nya kesucian dan kekuatanmu. Dan Allah berjanji untuk senantiasa menambah karunia-Nya atas orang-orang yang bersyukur, sebagaimana firman-Nya : "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim: 7)

Maka bersabarlah, tentanglah hawa nafsumu, dan berpegang teguhlah pada perintah-perintah-Nya. Ridhalah atas takdir Yang Maha Kuasa, dan berharaplah akan ridha dan karunia-Nya. Sungguh Allah sendiri telah berfirman: "Hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan menerima ganjaran mereka tanpa batas." (QS. Az Zumar : 10)

Risalah kedua belas

Ia bertutur:

Apabila Allah Yang Maha Agung melimpahimu kekayaan, dan kekayaan itu memalingkanmu dari kepatuhan kepadaNya, niscaya Ia memisahkanmu dari Nya di dunia dan di akhirat. Mungkin juga Ia mencabut karuniaNya darimu, menjadikanmu papa dan melarat, sebagai hukuman atas kepalinganmu dari Sang Pemberi, dan keterpesonaanmu akan karuniaNya.

Tetapi, bila kau senantiasa patuh kepadaNya, dan tak terpengaruh oleh kekayaan itu, Allah akan menambahkan karuniaNya kepadamu, dan sedikit pun takkan menguranginya. Harta adalah abdimu, dan kau adalah abdi Sang Raja. Karena itu, hidup di dunia ini berada di bawah kasih sayangNya, dan hidup di akhirat terhormat dan abadi, bersama-sama para shiddiq, para syahid, dan para shaleh.

Risalah ketigabelas

Ia bertutur:

Jangan berupaya menjarah sesuatu rahmat, dan jangan pula berupaya menangkis datangnya sesuatu bencana. Rahmat akan datang kepadamu jika ia sudah ditakdirkan untukkmu, baik kau suka atau pun tak suka. Bencana akan menimpamu, jika itu takdir bagimu, entah suka atau tak suka, dan kau coba menangkisnya dengan do'a, atau menghadapinya dengan kesabaran dan keteguhan hati demi mendapatkan keridhaanNya.

Berpasrahlah dalam segala hal, agar Ia bertindak malalui dirimu. Jika itu suatu rahmat, bersyukurlah. Dan jika itu suatu bencana, bersabarlah, atau coba tumbuhkanlah kesabaran dan keterikatan dengan Allah dan keridhaanNya.

Atau coba rasakanlah rahmatNya di dalam bencana ini, atau menyatulah sedapat mungkin denganNya lewat hal ini, lewat semua sarana spiritual yang kau miliki. Di dalamnya, kau akan digerakkan dari satu maqam ke maqam yang lain dalam perjalananmu menuju Allah, yaitu dalam upaya menaati dan berakrab dengan perintah sehingga kau dapat berjumpa dengan yang Maha Besar.

Lalu, kau ditempatkan di maqam yang sebelumnya telah dicapai oleh para Shiddiq, para syahid dan para shaleh. Maknanya, kau mencapai keakraban sedemikian rupa dengan Allah hingga memungkinkanmu melihat maqam orang-orang yang telah mendahuluimu menghadap Sang Raja, Penguasa Kerajaan yang Agung, dan orang-orang yang dekat denganNya dan telah menerima segala kenyamanan, kesenangan, keamanan, kehormatan dan rahmat dariNya.

Biarkanlah bencana itu datang, dan jangan rintangi jalannya. Jangan menghadapinya dengan doa. Jangan merasa gundah atas kedatangan dan penghampirannya, karena panas apinya tak lebih mengerikan daripada kobaran api neraka.

Mengenai manusia terbaik, dan yang terbaik di atas bumi, dan di kolong langit ini, Rasulullah Muhammad saw, diriwayatkan, bersabda: "Sungguh, api neraka akan berseru kepada orang-orang beriman 'Wahai mu'min, cepatlah berlalu karena cahayamu mematikan nyala apiku' ".

Nah, bukanlah nur seorang mu'min yang mematikan nyala api neraka itu, adalah cahaya yang kita temui padanya di dunia ini, dan yang membedakan yang patuh kepada Allah dan yang kafir ? Cahaya inilah yang memadamkan kobaran bencana. Sedang kesejukan kesabaranmu dan kepatuhanmu kepada Allahlah yang memadamkan panas yang bakal menimpamu.

Jadi, bencana yang menimpamu bukanlah untuk menghancurkanmu, tapi mencobaimu, mengukuhkan imanmu, menguatkan pilar-pilar keyakinanmu, dan memberimu secara rohani, kabar baik dariNya tentang kehendakNya atasmu. Allah berfirman : "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihat dan bersabar di antaramu; dan agar kami nyatakan hal ihwal kalian. " (QS: 47:31).

Nah, bila keimananmu dengan Allah terbukti dan sedemikian sesuai dengan ketentuanNya - dan hal ini berkat pertolonganNya - maka kau meski tetap bersabar, serasi denganNya dan penuh taat kepadaNya. Jangan biarkan segala pelanggaran terhadap perintah dan laranganNya, baik oleh dirimu sendiri maupun orang lain. Bila datang perintahNya, dengarkanlah dengan seksama dan segeralah melaksanakannya. Bertindaklah, jangan diam, jangan pasif di hadapan takdir Yang Maha Kuasa, tapi curahkanlah kekuatanmu dan berupayahlah memenuhi perintah itu.

Jika kau tak mampu melaksanakan perintah itu, jangan membuang-buang waktu, segeralah kembali kepada Allah. Berlindunglah kepadaNYa, rendahkanlah dirimu di hadapanNYa, mohonlah ampunanNya. Coba carilah sebab ketakmampuanmu melaksanakan perintahNya, dan untuk terjauhkan dari berbangga atas kepatuhanmu kepadaNya. Mungkin ketakmampuanmu ini disebabkan oleh prasangka-prasangka buruk, atau oleh sikap tak layakmu dalam kepatuhanmu kepadaNya atau oleh kebanggaanmu, atau oleh kebertumpuanmu pada daya upayamu sendiri, atau oleh perbuatanmu sendiri menyekutukanNya dengan dirimu sendiri atau dengan makhlukNya. Akibatnya, Ia menjauhkanmu dari pintuNya dan menolak kepatuhanmu kepadaNYa. Lalu Ia tutup pinti pertolongan bagimu, Ia palingkan kemurahan wajahNya dari dirimu. Ia menjadi marah kepadaMu, dan menjauhkan diri darimu. DibiarkanNya, kau sibuk dengan cobaan-cobaanmu di dunia ini, dengan kedirianmu. Tak tahukah kau, bahwa hal ini membuatmu lupa akan Tuhanmu, dan menutupimu dari penglihatanNya, Ia yang telah menciptakanmu, memeliharamu, dan mengaruniaimu sedemikian banyak ni'mat. Waspadalah agar segala sesuatu selain Allah ini tak memisahkanmu dariNya. Maka, jangan mengutamakan sesuatu selain Allah, sebab Dia menciptakanmu semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Maka janganlah berlaku aniaya terhadap diri sendiri, sehingga tersibukkan oleh segala yang bukan perintahNya. Yang demikian itu, memjerumuskanmu ke dalam api neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan, dan kau pasti menyesal, tapi penyesalanmu tiada guna dan kau berdalih, tapi tiada dalih yang diterima. Kau menangis minta pertolongan, tapi takkan ada pertolongan. Kau mencoba menyenangkan Allah, tapi sia-sia.

Kau minta dikembalikan di dunia, untuk mempersiapkan bekal dan menebus kesalahan, tapi sia-sia. Kasihanilah dirimu, dan gunakanlah segala sarana untuk mengabdi kepada Tuhanmu, seperti akalmu, keimananmu, kecerahan ruhanimu, dan ilmu yang dikaruniakan kepadamu. Dan berupayalah menerangi lingkunganmu dengan cahaya ini semua di tengah-tengah kehampaan tujuan. Pegang teguhlah semua perintah dan larangan Allah, dan lewatilah, di bawah petunjuk keduanya, jalan menuju Tuhanmu, Ia yang telah menciptakan dan menumbuhkanmu. Jangan kufur ni'mat kepadaNya, Ia yang telah menciptakanmu dari debu, dan dari setetes mani dijadikanNya kau seorang manusia sempurna. Janganlah menghendaki yang bukan perintahNya, dan jangan menganggap sesuatu itu buruk, bila tak tegas-tegas diharamkanNya. Bila kau serasi dengan perintahNya, seluruh makhluk hormat kepadamu. Bila kau menghinakan segala yang dilarang oleh Allah, maka segala yang tak nampak lari menjauhimu, di manapun kau berada. Allah telah berfirman : " Wahai bani Adam, Akulah Allah, tak ada illah(sesembahan) selain Aku. Bila Aku katakan 'Jadilah', maka ia akan maujud. Patuhilah Aku, maka akan Kusempurnakan kamu, sehingga bila kau berkata 'Jadilah', ia akan maujud. "

"Wahai bumi, hormatilah orang-orang yang memujiku, dan susahkanlah orang-orang yang memujamu."

Maka, bila datang sesuatu yang diharamkanNya, berlakulah bagai seorang yang lunglai sendi-sendi tulangnya, yang kehilangan kekuatan jasmaninya, yang remuk hatinya, yang tak bergairah, yang terlepas dari pesona-pesona duniawi dan dari segala nafsu hewani, bak pelataran gelap nantak terurus, bak gedung tak berpenghuni yang atapnya sudah jebol, yang didalamnya tak ada jejak-jejak kemaujudan hewani. Berlakulah bagai seorang tuli sejak lahir, bagai seorang buta sejak lahir, seakan bibirmu penuh bengkak nan ngeri, seakan lidahmu bisu dan kasar, seakan gigimu bernanah penuh nyeri dan tanggal, seakan kedua tanganmu lumpuh dan tak kuasa memegang sesuatupun, seakan kakimu gemetar dan penuh luka, seakan kemaluanmu lumpuh seolah perutmu kekenyangan, seakan akalmu gila, dan tubuhmu seakan mayat tengah diangkut ke kubur.

Maka, kau mesti segera mendengarkan dan menunaikan semua perintahNya, sebagaimana kau mesti enggan tak bergairah terhadap semua yang diharamkanNya, dan berlaku bagai mayat, pasrahlah terhadap ketentuanNya. Nah, reguklah sirup ini, ambillah obat ini, dan aturlah makanmu, agar kau terbebas dari kedirian, sembuhkanlah dirimu dari segala penyakit dosa, dan lepaskanlah dirimu dari belenggu nafsu, dan dengan demikian terperbaruilah dirimu menjadi pribadi yang ruhaninya sehat dan sempurna.

Risalah keempatbelas

Ia bertutur:

Wahai budak nafsu! Jangan mengkalim bagi dirimu sendiri maqam para rabbani. Kau adalah pemuja nafsu, sedang mereka adalah penyembah Allah. Dambaanmu adalah dunia, sedang dambaan mereka adalah akhirat. Matamu hanya melihat dunia ini, sedang mata mereka melihat Tuhan bumi dan langit. Kau pencinta ciptaan, sedang mereka pencinta Allah. Hatimu terpaut pada yang di bumi, sedang hati mereka trpaut pada Tuhan Arsy. Kau adalah korban segala yang kau lihat, sedang mereka tak melihat segala yang kau lihat. Mereka hanya melihat sang Pencipta segalanya, yan gtak mungkin terlihat (oleh mata-mata ini). Orang-orang ini meraih tujuan hidup mereka, dan keselamatan mereka terjamin, sedang kau tetap menjadi korban nafsu duniawi.

Orang-orang ini lepas dari ciptaan, nafsu duniawi dan kedirian. Dengan demikian, mereka melicinkan jalan bagi penghampiran mereka kepada Tuhan Yang Mahabesar, yang menganugerahi mereka kekuatan untuk meraih kemaujudan yang baik; kepatuhan kepada Tuhan. Inilah ridha Allah, yang dianugerahkan-Nya kepada yang dikehendaki-Nya. Mereka jadikan taat dan pemujaan sebagai kewajiban mereka, dan kukuh dalam keduanya dengan bantuan-Nya tanpa mengalami kesulitan. Maka kepatuhan, dapat dikatakan, menjadi jia dan keseharian mereka.

Akhirnya, dunia menjadi rahmat dan menyenangkan bagi mereka, bagai surga laiknya. Sebab, bila mereka melihat sesuatu, mereka melihat dibalik sesuatu itu penciptaan-Nya. Maka orang-orang ini memberi daya kepada bumi dan lelangit dan menyenangkan bagi yang mati dan yang hidup. Karena Tuhan mereka telah menjadikan mereka pasak bumi. Mereka bagai gunung-gunung yang berdiri kukuh. Orang-orang ini adalah yang terbaik di anatara yang telah diciptakan dan ditebarkan-Nya di dunia ini. Semoga kedamaian dari Allah melimpahi mereka, juga salam dan rahmat-Nya, selama bumi dan lelangit maujud.

Risalah kelimabelas

Ia bertutur:

Aku melihat dalam mimpi seolah aku berada di suatu tempat seperti masjid, yang di dalamnya ada beberapa orang menjauh dari manusia-manusia lain. Aku berkata kepada diriku: "Jika si anu hadir di sini, tentu ia bisa mendisiplinkan orang-orang ini, dan memberi mereka petunjuk yang benar, dan seterusnya", lalu terbayang olehku seorang yng saleh tengah dikerumuni mereka, dan salah seorang dari mereka bertanya: "Kenapa Anda diam ?" Jawabku: "Jika kalian berkenan, aku akan bicara". Lanjutku, "Jika kalian menjauh dari orang-orang demi kebenaran, jangan meminta sesuatu pun dengan lidah kepada manusia. Jika kau berhenti meminta secara demikian, maka jangan meminta sesuatu pun kepada mereka, hatta di dalam benak, sebab meminta di dalam benak sama saja dengan meminta dengan lidah. Dan ketahuilah, setiap hari Allah selalu kuasa mungubah, mengganti, meninggikan dan merendahkan (orang-orang). Ia naikkan derajat beberapa orang. Lalu, mereka yang telah dinaikkan-Nya ke derajat tertinggi, diancam-Nya bahwa Ia bisa menjatuhkan mereka ke derajat terendah, dan diberi-Nya mereka harapan bahwa Ia akan memelihara mereka di tempat terpuji itu. Sedang mereka yang telah dilemparkan-Nya ke derajat terendah, diancam-Nya dengan kehinaan nan abadi, dan diberi-Nya mereka harapan dinaikkan ke derajat tertinggi." Kemudian aku terjaga dari mimpiku.

Risalah keenambelas

Ia bertutur:

Tak ada yang menjauhkanmu dari ridha dan rahmat-Nya, kecuali ketergantunganmu kepada manusia, sarana-sarana keterampilan, akal dan perolehan. Manusia termasuk pengalang bagimu dalam mencari rizki yang sesuai dengan sunnah Rasul, semisal bekerja mencari nafkah. Selama bergantung pada manusia, selama itu pula kau mengharapkan kesudian dan uluran tangan mereka, bahkan kau meminta dengan beribahati di depan pintu rumah mereka. Perbuatan seperti ini termasuk syirik, karena kau menyekutukan Ia dengan makhluk-Nya. Setimbal dengan (dosa besarmu) itu, kau dihukum dengan pencabutan sumber rizkimu, semisal kehilangan pekerjaan yang halal. Bila kau campakkan ketergantungan dan pengemisanmu kepada mereka dan berlindung kepada mata pencaharianmu, hidup dengannya, dan lupalah kamu akan ridha Allah, maka hal ini juga termasuk syirik, malah lebih berbahaya dari yang pertama, karena kemusyrikan semacam ini halus sekali sehingga sulit dilihat. Tentu, Allah akan menghukummu atas kedurhakaanmu ini, dengan makin menjauhkanmu dari ridha-Nya.

Bila telah berpaling dari kesesatan semacam itu, membuang jauh-jauh segala kemusyrikan dari kahidupan, dan mencampakkan semua ketergantungan kepada mata pencaharian dan kemampuan diri, dan yakin hanya Dialah Pemberi Rizki, Pencipta segala kemudahan, Pemberi kekkuatan untuk mencari nafkah, Pemberi segala kebaikan, dan bahwa rizki sepenuhnya berada di tangan-Nya, maka rizki itu kadang dilimpahkan-Nya kepadamu melalui orang lain, kala kau mendapat musibah dan sedang berupaya mengatasinya. Kadang rizki itu datang kepadamu melalui upahmu dari bekerja, kadang rizki itu datang kepadamu melalui ridha-Nya, hingga kau tak melihat sebab dan perantaranya.

Nah, berpalinglah kepada-Nya, campakkanlah segera di hadapan-Nya kedirian, maka diangkat-Nya tabir pengalang antara kau dan ridha-Nya, dan dibuka-Nya pintu-pintu rizki dengan ridha-Nya, seperti seorang dokter merawat pasiennya - sebagai perlindungan-Nya atasmu, agar kau tak menyimpang. Sungguh Ia menyayangimu dengan limpahan ridha-Nya.

Nah, bila telah diusir-Nya dari hatimu kedirian dan kesenangan, maka tinggallah di sana kehendak-Nya semata. Lalu, bila Ia ingin memberikan bagianmu kepadamu, yang tak mungkin lepas dari tanganmu, dan memeng bukan hak orang lain, maka ditimbulkan-Nya di dalam hatimu keinginan untuk meraih bagianmu, dan diserahkan-Nya ke tanganmu kala kau membutuhkannya. Lalu, diberi-Nya kau kemampuan mensyukuri nikmat tersebut. Kau akan selalu disadarkan-Nya kepadamu sebagai bagianmu. Untuk itu, kau mesti menyadarinya dan bersyukur kepada-Nya. Semua ini meneguhkanmu dalam menjauhi manusia, dan mengosongkan hatimu dari segala selain Allah.

Bila hikmah ilmumu tinggi, keyakinanmu teguh, hatimu tercerahkan, maqam derajatmu makin dekat dengan-Nya, maka kau diberi-Nya kemampuan "melihat ke depan", sebagai tanda kerelaanmu dan sebagai penghargaan atas harkatmu. Ini hanyalah sebagian dari keridhaan-Nya, sebagai rahmat dan petunjuk-Nya, sebagai rahmat dan petunjuk-Nya. Allah telah berfirman: " Dan kami jadikan ia (al-Kitab) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu, pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar, dan meyakini ayat-ayat kami." (QS.32:23-24). "Dan orang-orang yang berjihad demi Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS.29:69) Dan takutlah kepada Allah, niscaya Ia mengajarimu, dan memberimu kemampuan untuk mengawasi semesta alam, dengan izin yang jelas, yang tiada kegelapan di dalamnya, dan dengan tanda yang nyata, yang terang benderang bagai sang surya, dan dengan tutur kata yang manis, yang lebih menarik dari segala apa pun, dan dengan ilham yang benar, yang tak sedikit pun mengandung kekaburan, yang bersih dari dorongan setan dan dari rayuan iblis yang terkutuk.

Allah berfirman:
"Wahai Bani Adam, Akulah Allah, tak sesuatu pun layak dipuja kecuali Daku. Aku berfirman 'Jadilah', ia pun akan maujud. Taatilah Aku, niscaya kau akan Kubuat sedemikian rupa, sehingga jika berseru 'jadilah', ia pun akan maujud." Dan Ia telah membuat ihwal serupa ini kepada beberapa Rasul-Nya, beberapa wali-Nya, dan orang-orang yang sangat diridhai-Nya di antara hamba-hamba-Nya.

Risalah ketujuhbelas

Ia bertutur:

Bila 'bersatu' dengan Allah dan mencapai kedekatan dengan-Nya lewat pertolongan-Nya, maka makna hakiki 'bersatu' dengan Allah ialah berlepas diri dari makhluk dan kedirian, dan sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa gerakmu, yang ada hanya kehendak-Nya. Nah, inilah keadaan fana (peluruhan), dan dengannya itulah 'manunggal' dengan Tuhan. 'Bersatu' dengan Allah tentu tak sama dengan bersatu dengan ciptaan-Nya. Bukanlah Ia telah menyatakan: "Tak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Mahamendengar lagi Mahamelihat." (QS. 42:11)

Allah tak terpadani oleh semua ciptaan-Nya. 'Bersatu' dengan-Nya lazim dikenal oleh mereka yang mengalami kebersatuan ini. Pengalaman mereka berlainan, dan khusus bagi mereka sendiri.

Pada diri setiap Rasul, Nabi dan wali Allah, terdapat suatu rahasia yang tak dapat diketahui oleh orang lain. Sering terjadi, seorang murid menyimpan suatu rahasia yang tak diceritakannya kepada sang syaikh, dan sebaliknya sang syaikh kadang merahasiakan sesuatu yang tak diketahui si murid, kendati mungkin suluk si murid sudah mendekati ambang pintu maqam ruhani sang syaikh, ia terpisah dari syaikh-nya, dan Allahlah yang menjadi pembimbingnya. Allah memutuskan hubungannya dengan ciptaan.

Dengan demikian, sang syaikh menjadi bagai seorang inang pengasuh yang berhenti menyusui sang bayi setelah dua tahun. Tiada lagi baginya hubungan dengan ciptaan, setelah lenyapnya kedirian. Sang syaikh diperlukan, selama si murid masih terbelenggu kedirian, yang mesti dihancurkan. Tapi, begitu kelemahan manusiawi ini musnah, maka pada dirinya tak ada lagi noda dan kerusakan, dan ia tak lagi membutuhkan sang syaikh.

Jadi, bila sudah 'bersatu' dengan Allah sebagaimana yang digambarkan di atas, kau bersih dari segala selain Allah. Tak kau lihat lagi sesuatu pun kecuali Allah, di kala suka maupun duka, ketakutan maupun berharap, kau hanya menjumpai Dia, Allah SWT, yang patut kau takuti, yang layak kau mintai perlindungan-Nya. Nah, perhatikan senantiasa kehendak-Nya , dambakanlah perintah-Nya, dan pautuhlah selalu kepadanya-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Jangan biarkan hatimu tertambat pada salah satu ciptaan-Nya.

Pandanglah semua ciptaan bagai orang yang ditahan oleh Raja sebuah kerajaan besar, lalu sang raja merantai leher dan kedua lengannya, menyalibkannya pada sebatang pohon pinus yang berada di tebing sungai berarus deras, bergelombang dan amat dalam. Sementara itu sang Raja duduk di atas singgasana yang tinggi, bersenjatakan lembing, panah, dan berbagai senjata bidik. Lalu mulailah sang raja mengarahkan dan membidikkan salah satu senjata bidiknya kepada si tawanan. Dapatkah kita hargai orang yang melihat ini semua, dan memalingkan penglihatannya dari sang raja, sama sekali tak takut kepada raja itu, tak berharap kepadanya, tak iba kepada tawanan itu dan tak memohonkan ampunan untuknya? Bukankah, menurut pertimbangan akal sehat, orang semacam ini tergolong tolol, gila, tak berbudi, dan tak manusiawi?

Nah, berlindunglah kepada Allah dari kebutaan hati, sesudah memiliki bashirah ( mata hati), dari keterpisahan sesudah 'bersatu', dari keterasingan sesudah keakraban, dari ketersesatan sesudah memperoleh petunjuk, dan dari kekufuran sesudah beriman.

Dunia ini bak sungai besar berarus deras. Setiap hari airnya bertambah, dan itulah perumpamaan nafsu hewani manusia dan segala kesenangan duniawi. Sedang anak panah dan berbagai senjata bidik, melambangkan ujian hidup manusia. Jelaslah, unsur-unsur yang menguasai kehidupan manusia yaitu berbagai cobaan hidup, musibah, penderitaan, dan semua upaya mengatasinya. Bahkan semua karunia dan nikmat yang diterimanya, dibayang-bayangi oleh berbagai musibah.

Oleh karena itu, bila seorang cerdik-cendekia sudi menyigi masalah ini terus-menerus, maka ia akan memperoleh pengetahuan tentang hakikat, bahwa tak ada kehidupan sejati kecuali kehidupan akhirat. Rasulullah saw. Bersabda: "Tak ada kehidupan selain kehidupan di akhirat." Ihwal semacam ini benar-benar terbukti bagi seornag Mukmin, sesuai dengan sabda Nabi saw.: "Dunia ini adalah penjara bagi seorang Mukmin dan surga bagi seorang kafir."

Beliau juga bersabda: "Orang saleh terkekang." Bagaimana bisa hidup enak di dunia ini, bila diingat hal ini? Sesungguhnya, kenyamanan hakiki terletak pada hubungan sempurna dengan Allah SWT, penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya. Bila kau lakukan hal ini, niscaya kau terbebas dari dunia ini, dan kepadamu dilimpahkan rahmat, kebahagiaan, kebajikan, kesejahteraan, dan keridhaan-Nya.

Risalah kedelapanbelas

Ia bertutur:

Janganlah kau mengeluh tentang sesuatu bencana yang menimpamu kepada siapa pun, baik kepada kawan maupun lawan. Jangan pula menyalahkan Tuhanmu atas semua takdir-Nya bagimu, dan atas ujian yang ditimpakan-Nya atasmu. Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya atasmu. Beritakanlah semua kebaikan yang dilimpahkan-Nya kepadamu, dan segala puji syukur atas semua itu. Kedustaanmu menyatakan puji syukurmu atas sesuatu rahmat yang sesungguhnya belum datang kepadamu, lebih baik ketimbang cerita-ceritamu perihal kepedihan hidup. Adakah ciptaan yang sunyi dari rahmat-Nya? Allah SWT berfirman: "Dan jika kamu hitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan sanggup menghitungnya." (QS. 14:34) Betapa banyak nikmat yang telah kau terima, dan tak kau sadari! Jangan meresa senang dengan ciptaan, jangan menyenanginya, dan jangan menceritakan hal ihwalmu kepada siapa pun. Cintamu harus kautujukan hanya kepada-Nya, merasa senanglah dengan-Nya dan mengeluhlah hanya kepada-Nya.

Jangan kau lihat orang lain, karena mereka tak memberi manfaat dan mudharat. Segala suatu adalah ciptaan-Nya, di tangan-Nyalah sumber gerak atau diam mereka. Kemaujudan mereka sampai detik ini pun semara-mata karena kehendak-Nya. Dialah penentu derajat mereka. Barangsiapa dimuliakan-Nya, maka takkan ada yang mampu menjadikannya hina. Dan barangsiapa dihinakan-Nya, takkan ada yang mampu menjadikannya mulia. Jika Allah berkehendak menimpakan keburukan atasmu, tak seorang pun sanggup mencegahnya, selain Ia sendiri. Dan jika Ia berniat melimpahkan kebaikan, tak seorang pun sanggup menahan turunnya rahmat-Nya. Nah, bila kau mengeluh terhadap-Nya, padahal kau menikmati rahmat-Nya, kau tamak, dan menutup mata atas yang kau miliki, maka Allah murka kepadamu, mencabut kembali nikmat-Nya darimu, mewujudkan segala keluhanmu, melipatgandakan kesusahanmu, dan memperhebat hukuman, kemurkaan dan kebencian-Nya kepadamu. Kau menjadi terhinakan di mata-Nya.

Oleh karena itu, janganlah mengeluh sedikit pun, walau jasadmu digunting-gunting menjadi serpihan-serpihan kecil daging. Selamatkanlah dirimu! Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah!

Sesungguhnya, sebagian besar musibah yang menimpa anak Adam, dikarenakan oleh keluhan-keluhan mereka terhadap-Nya. Kenapa menyalahkan-Nya? Padahal Ia Mahapengasih, Mahaadil, Mahasabar, Mahapengasih, Mahapenyayang, dan yang lemah-lembut terhadap hamba-hamba-Nya, melebihi seorang dokter yang sabar, pengasih, penyayang, ramah, yang juga kerabat si pasien. Dapatkah kau temui sesuatu kesalahan pada diri seorang ayah atau ibu yang berhati mulia.

Nabi Suci saw., telah bersabda: "Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya ketimbang seorang ibu terhadap anaknya."

Wahai yang dirundung malang! Tunjukkanlah perilaku terbaik. Tunjukkanlah kesabaranmu bila musibah menimpamu, meski kau tak berdaya karenanya. Bersabarlah selalu, meski kau kepayahan dalam menyerahkan diri kepada-Nya. Bertakwalah selalu kepada-Nya. Ridha dan rindulah kepada-Nya. Jika masih kau temui kedirianmu, bergegaslah keluar darinya. Bila kau terhilang, dimanakah kau'kan didapat? Dimanakah kau? Belumkah kaudengar firman Allah: "Diwajibkan atas kamu berperang, sesungguhnya beperang itu sesuatu yang kamu benci. Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Dan Allah Maha-mengetahui, sedang kamu tak mengetahui." (QS>2:216).

Pengetahuan ihwal hakikat segala suatu tercabut dari hatimu dan tertutup dari penglihatanmuolehtabir.Oleh karena itu, jangan berlebih-lebihan dalam membenci ataupun mencintai sesuatu. Ikutilah segala ketentuan syariat dalam segala keadaan, jika kau benar-benar saleh. Setelah kau jalani hal ini, maka ikutilah semua perintah tentang wilayat, dan teguhlah selalu. Ridhalah atas ketentuan-Nya dan berdamailah dengan kehendak-Nya. Dan, luruhlah ke dalam keadaan badal, ghauts dan shiddig.

Bertolaklah senantiasa dari jalan nasib, jangan berdiri di tengah-tengahnya, gantilah dirimu dan hasratmu (dengan kehendak-Nya), dan tahanlah lidahmu dari segala keluhan. Bila hal ini telah kau jalani, maka Tuhanmu mengaruniamu kebaikan berlimpah, kehidupan yang nyaman dan bahagia, dan melindungimu, karena ketaatanmu kepada-Nya.

Bila di dalam diri manusia, bersarang berbagai dosa, noda dan kesalahan, maka tak layak baginya bersama-Nya, sebelum ia bersih dari dosa-dosa. Tak seorang pun dapat mencium ambang pintu-Nya, kecuali ia suci dari noda ujub, sebagaimana tak seorang pun layak bersama raja, kecuali ia bersih dari noda dan bau busuk. Nah, semua musibah tak lain adalah sarana penebus dan pembersih diri. Nabi saw. Telah bersabda: "Demam sehari dapat menebus dosa sepanjang tahun."

Risalah kesembilanbelas

Ia bertutur:

Bila kau lemah iman, bila dijanjikan kepadamu sesuatu, janji itu dipenuhi, sehingga keimananmu tak sirna. Tapi, bila keyakinan dan kepastian ini jadi kuat dan mantap di dalam hatimu, maka, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya kamu pada hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi terpercaya di sisi Kami." (QS.12:54), dan menjadilah kau salah seorang yang terpilih, bahkan yang terpilih dari yang terpilih. Maka sirnalah tujuan maupun kehendak pribadimu.

Lalu, kau seolah-olah sebuah bejana yang tak cairan pun bisa berada di atasnya, sehingga tiada kedirian di dalam dirimu. Kau menjadi bersih dari segala selain Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaagung. Kau menjadi ridha kepada-Nya, kepadamu dijanjikan keridhaan-Nya, sehingga kau dapat menikmati dan terahmati atas semua tindakan-Nya.

Maka kepadamu dijanjikan sesuatu, bila kau puas dengan (janji) itu, dan tanda kepuasan ada padamu, maka kau dipindahkan-Nya ke janji lain yang lebih tinggi. Dijadikan-Nya kau lebih terhormat, dan dianugerahkan-Nya kepadamu rasa cukup-diri terhadap janji. Dibuka-Nya bagimu pintu-pintu hikmah, disingkapkan-Nya bagimu misteri Ilahiah, kebenaran hakiki, makna perubahan janji-Nya. Dan dalam maqam barumu, kau alami peningkatan kemampuan memelihara keadaan ruhaniahmu.

Lalu, kepadamu dianugerahkan derajat ruhani, yang didalamnya dipercayakan kepadamu rahasia-rahasia, dan kau alami perluasan dada, ketercerahan hati, kefasihan lidah, derajat tinggi ilmu dan kecintaan. Maka kau menjadi kesayangan semua makhluk, baik manusia maupun jin, dan makhluk-makhluk lainnya, di dunia dan di akhirat. Bila kau menjadi 'pilihan' Allah, maka orang tunduk kepada-Nya, cinta mereka berada di dalam cinta-Nya, dan kebencian mereka berada di dalam kebencian-Nya. Dengan ini, kau telah diantarkan-Nya ke tempat yang amat tinggi, dan di sana tak kau jumpai lagi kedirianmu akan segala benda.

Lalu, dibuat-Nya kau penuh hasrat terhadap sesuatu, maka nafsumu ini dimusnahkan dan dilenyapkan, dan kau dipalingkan-Nya jauh-jauh dari keinginan serupa itu lagi. Jadi, tak diberikan-Nya yang kau inginkan di dunia ini, akan dilimpahkan kepadamu di akhirat kelak, sehingga meningkatkan keakrabanmu dengan-Nya, dan menyejukkan kedua matamu di surga yang tinggi, di dalam taman yang abadi.

Tapi, bila selama ini kau tak berhasrat terhadap sesuatu pun, tak berharap kepada siapa pun, tak condong kepada apa pun - karena kau sadar bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara, dan tipuannya menyesatkan yang mencintainya - tapi, tujuanmu adalah sang Khalik, yang telah menciptakan, mewujudkan, menahan dan melimpahkan segala suatu, yang telah membentangkan bumi dan menegakkan langit, maka kepadamu dilimpahkan segala yang kau butuhkan di dunia ini. Tentu saja, ini semua diberikan kepadamu, setelah kau putus asa akibat dipalingkan dari semua hasrat duniawi, dan sesudah kau merasa mantap akan kehidupan akhirat sebagaimana yang telah kita bicarakan.

Risalah keduapuluh

Ia bertutur:

Nabi Suci Muhammad saw. Bersabda: "Campakkanlah segala yang menimbulkan keraguan dibenakmu, tentang yang halal dan yang haram, dan ambillah segala yang tak menimbulkan keraguan pada dirimu."

Bila sesuatu yang meragukan, maka ambillah jalan yang didalamnya tiada sedikit pun keraguan dan campakkanlah yang menimbulkan keraguan. Nabi bersabda: "Dosa menciptakan kekacauan dalam hati." Tunggulah, bila dalam keadaan begini, perintah batin. Bila kau diperintahkan untuk mengambilnya, maka lakukanlah sesukamu. Jika kau dilarang, maka jauhilah dan anggaplah itu sebagai tak pernah maujud, dan berpalinglah ke pintu Allah, dan mintalah pertolongan dari Tuhanmu.

Andaikata kau merasa kehabisan kesabaran, kepasrahan dan kefanaan, maka ingatlah bahwa Dia SWT tak butuh diingat, Dia tak lupa kepadamu dan selainmu. Ia yang Mahakuasa lagi Mahaagung memberikan rizki kepada para kafir, munafik dan mereka yang tak mematuhi-Nya. Mungkinkah Dia lupa kepadamu, duhai yang beriman, yang mengimani keesaan-Nya, yang senantiasa patuh kepada-Nya dan yang teguh dalam menunaikan perintah-perintah-Nya siang dan malam.

Sabda Nabi Suci yang lain: "Campakkanlah segala yang menimbulkan keraguan di benakmu, dan ambillah yang tak menimbulkan keraguan," memerintahkanmu untuk melecehkan yang ada di tangan manusia, untuk tak mengharapkan sesuatu pun dari manusia, atau untuk tak takut kepada mereka, dan untuk menerima karunia Allah. Dan inilah yang takkan membuatmu ragu. Karena itu, hanya ada satu, yang kepadanya kita meminta, satu pemberi dan satu tujuan, yaitu Tuhanmu, Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, yang di tangan-Nya kening para raja dan hati manusia, yang adalah raja tubuh, berada - yaitu bahwa hati mengendalikan tubuh - tubuh dan uang manusia adalah milik-Nya, sedang manusia adalah agen dan kepercayaan-Nya.

Bila mereka menggerakkan tangan mereka kepadamu, hal itu atas izin, perintah dan gerak-Nya. Begitu pula, bila karunia ditahan darimu. Allah SWT berfirman: "Mintalah kepada Allah karunia-Nya."

"Sesungguhnya yang kau abdi selain Allah, tak memberimu sesuatu pun karenaitu, mintalah karunia kepada Allah dan abdilah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya." "Bila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat; Aku menerima doa dari yang berdoa bila ia berdoa kepada-Ku." "Serulah Aku, maka Aku akan menyahutmu." "Sesungguhnya Allah adalah Pemberi karunia, Tuhan kekuatan." "Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada yang dikehendaki-Nya tanpa batas."


Semoga bermanfaat dan barokah.....


Vicky
Halaqah Sirrul Barokah

MENDEKATLAH PADA-KU, SEBELUM AKU PAKSA UNTUK MENDEKAT ....

Bismillahi minal Awwali wal Akhiri.....
Allaahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli 'alaihi wa sallim wa adzhib hazana qalbiy fin-dunya wal-aakhirah.......

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:
“Siapa tidak mendekat kepada Allah gara-gara halusnya kebaikan yang Dia berikan, maka ia akan diseret (supaya mendekat) dengan rantai cobaan” [Syaikh Ibnu Araby menulis dalam kitabnya ‘Al-Hikam’]

Seorang Guru Sufi Menasehati :

Anakku, Allah Maha Pengasih dalam segala suasana kepada hamba-Nya. Allah ingin agar hambanya menjadi orang yang shaleh dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Maka diberikanlah rezeki kepada hamba-Nya dengan halus agar dia menyadari hadirnya rezeki dari Allah kemudian si hamba akan mendekat dan bersyukur. Rezeki bisa berbagai macam bentuknya, dapat berupa uang, keluarga (anak istri suami), pangkat, jabatan, karier,dan sebagainya.

Serta diberikan-Nya kesehatan secara gratis, agar si hamba mendekatkan diri dan menyukurinya.

Sayang tak semua bisa sadar akan hal itu. Kadang kesehatan berlangsung lama, rezeki melimpah, tetapi hal tersebut tak sanggup mengetuk hatinya untuk bersyukur dan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka jadilah ia orang yang tidak sadar akan kasih sayang Allah.

Sama halnya seperti orang yang bermimpi, ia tidak pernah sadar dirinya tidur. Kadang orang harus dibangunkan agar ia sadar dari mimpinya. Maha suci Allah dengan Al Latif-Nya (maha halus) sehingga kebaikan-kebaikan-Nya mengalir deras dengan sangat halus sehingga tak terasa oleh hamba-Nya.

Betapa tidak, bukankah manusia sering lupa kenikmatan tidur, sampai tidur tersebut harus dibeli berupa obat tidur, dan bukankah manusia sering lupa nikmatnya garam, sampai larangan dokter mencegahnya, atau sampai makan pun harus ditakar dan dibatasi jenisnya.

Tetapi, walau demikian, kasih sayang Allah begitu besar kepada hamba-Nya. Karena itu jika peringatan berupa kenikmatan kesehatan dan rezeki gagal membawa si hamba untuk mendekatkan diri kepada-Nya, maka Allah akan memakai cara lain, yaitu melalui bala’, bencana dan musibah yang bisa berbagai macam bentuknya.

Biasanya dengan cara ini manusia relatif dengan cepat menyadari kesalahannya dan kemudian secara cepat mendekatkan dirinya kepada Allah.

Tidak kah kau lihat anakku, ketika laut memperlihatkan keperkasaannya berupa tsunami, ketika bumi menggeliat dengan gempa 7 skala richter, dan ketika merapi mulai terbatuk-batuk. Maka seluruh manusia tersentak, bangun dari tidur lelapnya. Kepal-kepal tangan mulai terbuka, menjadi tangan yang memberi dan menerima. Kepala dan wajah mulai tengadah ke atas, dan doa-doa mulai membumbung ke langit.

Kenanglah kalimat ini anakku, siapa yang tidak suka menghadap (mendekat) kepada Allah dengan halusnya pemberian karunia Allah, maka ia akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (bala’)

Siapa yang tidak suka dan tidak sadar dzikir kepada Allah ketika sehat wal’afiat dan murah rezeki, maka akan dipaksa supaya berdzikir / ingat kepada Allah dengan tibanya bala’ bencana dan musibah.

Maka dalam kedua hal itu Allah berkenan akan menuangkan nikmat karunia yang sebesar-besarnya kepada hamba-Nya, yaitu kenikmatan memiliki keinginan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Nah Anakku, lihatlah, sebagian orang di bawa mendekati Allah dengan mudah, sedangkan sebagian yang lain di bawa mendekat kepada Allah dengan berdarah-darah.

Allah Maha Pengasih dalam segala situasi. Seruan-Nya muncul melalui bisikan yang halus dan lemah lembut maupun lewat sakit dan musibah.

Anakku, semoga engkau termasuk kepada golongan hamba yang bersyukur dan mendekatkan diri kepada-Nya sehingga Allah tak perlu menurunkan ujian bala bencana, sakit ataupun musibah untuk menyadarkanmu. Amin Ya Allah…

La Hawla Wala Quwwata Ilabillah

Tiada Daya Kekuatan Kecuali Dari Allah

Laa ma’buda illa allah

Tiada yang disembah kecuali Allah

Laa ma’suda illa allah

Tiada yang dituju kecuali Allah

Laa maujuda illa allah

Tiada yang maujud (berwujud) kecuali Allah

Ilahi, anta maksudi

Tuhanku, hanya engkau tujuanku,

Waridhokamatlubi

Dan hanya ridloMulah yang kucari,

A’tini mahabbataka wama’rifataka

Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku

Laa ilaha illa allah

Tiada Tuhan kecuali Allah

Allahu Allah

Allahu Allah…


AIR MATA PENYESALAN

Aku berdiri di ujung jarum jam tua,
Yang mengerakkan denyutan nadiku,
Hina dalam diri yang selalu lupa,
Terkulai dalam tipuan dunia,
Dan ego diri dalam selimut hati,
Pagi ini..
Meski air mataku mengering,
Meski kata tobat dari mulutku menjadi sumbang,
Meski keram tanganku menghapus coretan sesal,
Waktu takkan kembali walau sedetik pun,
Kutatap kembali Qur’an kecilku,
Hanya lipatan kecil pada halaman tipis terbaca,
Begitu sibukkah aku…?
Begitu kakukah lidahku…?
Begitu anggkuh kah hatiku…?
Pagi ini,
Waktuku menguap sia-sia,
Tak ada setetes embun pagi pun yang membasahi kalbu,
Dalam keringnya kedahagaan hakiki,
Untuk menggapai Ridho-Mu,
Kutatap kembali sajadah lusuh itu,
Tak ada sujud malam pun berbekas di sana,
Tak ada air mata penyesalan pun menetes di sana,
Tak ada ukiran doa khusukpun tergores di sana,
Tak ada rasa bersukurpun dari nikmat yang teramat banyak,
Pagi ini…
Sakit dalam dada,
Rasa hina tercabik kemalasan,
Menghunjam dalam relung hati terdalam,
Tertutup noda hitam yang menginjak hati yang resah,
Ya… Allah,
Adakah waktuku yang masih tersisa,
Dari putaran waktu yang terus berlari,
Ya… Allah,
Mampukah aku berdiri sebagai manusia,
Kalau sujudkupun hanya di waktu yang Engkau wajibkan,
Mampukah aku di sebut hambamu,
Kalau rasa syukurku semakin memudar,
Mampukah aku melafalkan kebesaran nama-Mu,
Kalau persekutuanku pada nafsu menebal,
Mampukah aku memenuhi panggilan-Mu,
Kalau tak sebesar biji zarahpun kebaikan yang aku lakukan,
Mampukah aku,
Meski hanya tuk melihat kalung taqwa yang Engkau kalungkan pada hamba-hamba pilihan-Mu,
Ya… Allah,
Malu aku melangkah di bumi-Mu
Malu aku memakan rizki-Mu,
Malu aku menatap keindahan anugrah-Mu,
Ya… Allah,
Beri aku kesempatan,
Meski hanya di penghujung fajar-Mu ini,
Untuk mengucap satu kata,
Astaghfirullooohalladziiim….
Kata sesal karena khilafku,
Dengan setulus hatiku yang terdalam,
Dan linangan air mata penyesalanku…

Taubat

dihamparan kain sajadah yang lusuh... jiwa tertunduk dan bersimpuh.. memohon ampun dari Yang Maha Pengampun atas segala dosa-dosa yang mencemari raga.. yang semakin renta... hamba hanyalah setitik debu yang hina.. yang rapuh dan tak luput dari khilaf serta dosa... Tersadar didalam gelisah...setelah begitu jauh melangkah... setelah terlalu lama terlena akan kenikmatan nafsu dunia yang bagai fatamorgana... mungkinkah kan mengelupas dari tubuh.., kotoran-kotoranyang telah mendarah daging menjadi satu ... Hamba tahu…..tubuh yang telah terbalut dosa... takkan bisa disucikan... walau dengan air seluas samudra raya…Ya Allah... apapun kehendak-MU hamba ihklas... biarkan air mata ini menetes.. bukan karena air mata derita... Biarkan air mata ini mengalir... karena air mata bahagia... di sisa-sisa akhir nafas... berilah yang terbaik... Hamba yakin ENGKAU MAHA segalanya.... kan terima taubat hamba.., sebelum nyawa terlepas dari raga....


Marilah Setiap detak-detik jantung.., selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...


Vicky
Halaqah Sirrul Barokah

Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik ... Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

MENCARI KEDAMAIAN DIRI .....

Bismillahi minal Awwali wal Akhiri.....
Allaahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli 'alaihi wa sallim wa adzhib hazana qalbiy fin-dunya wal-aakhirah.......

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:
Seorang bijak bertanya kepada muridnya, “Pernahkah kau merasakan, sedetik saja, kedamaian dari segala yang telah kau pelajari dan kejar selama ini? Dari pendidikan yang tinggi? Dari pekerjaan yang banyak dimpikan orang? Dari kedudukan yang tiada lagi di atasnya? Dari uang yang kau tanamkan di pasar modal dan menghasilkan banyak keuntungan? Dari ketenaran dan pujian ribuan dan jutaan manusia?

“Sudahkah kau rasakan kedamaian di dalam dirimu? Tiada lagi kehausan dan kelaparan akan makanan dan pujian? Tiada lagi setress, ketakutan dan kekhawatiran akan sakit, kemiskinan, dan kerugian? Tiada lagi iri, benci, dan sakit hati? Hanya ada kebahagiaan, kesetaraan, dan kedamaian?”

“Tidak,” jawab sang murid.

“Jika tidak kau dapatkan kesetaraan antara segala yang bertolak-belakang, apakah ini yang disebut pembelajaran?”

“Bukan.”

“Jika tidak kau dapatkan kedamaian, apakah ini yang disebut kebijakan?”

Sang guru kemudian melanjutkan. Selama ini kau mempelajari segala sesuatu yang ada di dunia ini dan kau menemukan ketakjuban. Kau yakini bahwa itu semua akan membawa kepada keberuntungan.

Namun, “buku” yang perlu kau pelajari sekarang bukanlah buku yang seperti itu. Pelajaran yang perlu kau mengerti tidak ditemukan di buku itu. Sambungan antara insan, manusia, dan Tuhan, sambungan antara kebenaran, insan, dan Tuhan, tidak memiliki sambungan dengan segala yang telah kau pelajari sebelumnya di buku-buku dunia itu. Ada sebuah buku yang lain, sebuah buku yang sangat berharga dan misterius. Buku inilah yang harus kau pelajari. Sebuah buku yang menghubungkan insan, Tuhan, kebenaran, dan kualitas-kualitas mereka. Buku ini adalah sejarah Tuhan, yang merupakan misteri. Misteri yang berada di dalam diri manusia sejati (insan kamil). Hati manusia sejati inilah buku itu. Di dalam buku ini, kau akan bisa melihat sejarahmu dan sejarah segala sesuatu, tanpa bentuk, sebagai cahaya.

Kau sekarang harus menjadi seorang bayi. Kau harus mengenyahkan segala sesuatu yang telah kau pelajari sebelumnya. Apa yang ada di dalam hatimu, dalam qolbmu, dalam badanmu, dalam pikiranmu, dalam niatmu, dalam pandanganmu, dalam nafasmu, dalam suaramu, dalam ucapanmu, dan dalam rasamu — apapun yang kau temukan dari semua itu dan kau pikir itu bagus dan lezat, mungkin itu jabatan, status, atau kebanggaan, dan apapun yang kau pikir akan mendatangkan kebahagiaan — semua ini harus dienyahkan. Ketika kau sudah berhasil membuangnya, kemudian kau siap untuk memulai mempelajari “buku” ini. Inilah “soul psychology”. Inilah pembelajaran di dalam dirimu. Untuk pelajaran ini, buku itu ada di dalam dirimu, peta itu ada di dalam dirimu, sejarah itu ada di dalam dirimu, dan segala sesuatu yang harus kau sadari ada di dalam dirimu. Inilah mukjizat yang sebenarnya. The true story.

Mukjizat sejati adalah ketika kau bisa melihat mukjizat yang ada di dalam dirimu sendiri ini. Memahami mukjizat melalui kesempurnaanmu, melalui cahayamu, melalui ilmu (wisdom)mu, dan melalui kualitas sejati dirimu ini lah yang disebut mukjizat dari Tuhan. Ketika hadir pemahaman dan pencerahan, itulah mukjizat. Ketika mukjizat ini terlihat, kau akan paham bahwa pancaran cahaya dari dalam dirimu itu lebih kuat dari pada cahaya ribuan bintang dan bulan.

Pelajaran ini hanya bisa dipahami melalui wisdom, melalui kualitas Tuhan. Ini sebuah rahasia, yang kau tak akan bisa lihat dari luar, namun dari dalam dirimu. Aku jelaskan beberapa hal kepadamu:

Bagi kebenaran, kesalahan adalah lawannya.
Bagi kebaikan, keburukan adalah lawannya.
Bagi niat baik, niat buruk adalah lawannya.
Bagi kesabaran, kemarahan adalah lawannya.
Bagi kasih sayang, egoisme adalah lawannya.
Bagi matahari, kegelapan dan awan adalah lawannya.
Bagi siang, malam adalah lawannya.
Udara adalah lawan dari air.
Air adalah lawan dari api.
Kebenaran adalah lawan dari ilusi.

Dengan cara inilah, Tuhan telah menciptakan begitu banyak hal yang berlawanan. Tuhan telah menciptakan kebaikan dan juga lawannya. Mengapa Dia ciptakan kebaikan dan kejahatan? Agar kita bisa menghilangkan kejahatan, melakukan yang baik, dan memelihara tanaman dari tanah. Racun ular bisa menyembuhkan penyakit tertentu. Gajah adalah binatang yang liar yang kuat, tetapi jika kau bisa mengubah kualitasnya, kau akan bisa membuatnya bermanfaat.

Seperti inilah, selalu ada lawan bagi segala sesuatu, yang satu kotor dan yang satu bermanfaat. Tuhan telah menciptakan hal-hal yang berlawanan ini untuk memperlihatkan perbedaan dari dua hal yang berlawanan itu. Dan manusia memiliki kesempatan untuk mengubah yang buruk menjadi baik.

Inilah salah satu poin dalam pelajaran psikologi, Psikologi Tuhan. Tuhan menciptakan lawan dari setiap ciptaanNya, dan Dia juga menciptakan obat bagi segala sesuatu. Dia mengobati ketidaktahuan (kafir) dengan ilmu (wisdom). Dia obati segala sesuatu yang diciptakanNya dengan kasih sayang dan cinta.

Dia tidak memiliki lawan. Karena Dia melakukan segalanya dengan cara yang benar, maka dia tidak memiliki perbedaan, tidak ada pemisahan, tidak ada satupun yang buruk. Karena Dia jadikan yang buruk menjadi baik.

Mengapa Dia ciptakan seperti ini? Tuhan berkata, “Aku telah pelihara dengan benar keseimbangan dari segala yang berlawanan itu. Sadari bahwa bagiKu tidak ada kesalahan dalam ciptaanKu. Aku menjaga segala sesuau dalam keseimbangan. Aku telah tunjukkan kepadamu apa yang baik dan buruk, dan kamu memiliki kemampuan untuk mengubahnya. Kamu bisa mengubahnya menjadi kerajaan surga. Kerajaan neraka dan kerajaan surga keduanya ada di dalam dirimu. Jika kamu memahami kerajaan neraka dan kerajaan surga di dalam dirimu, maka kamu akan bisa mengubah kerajaan neraka menjadi kerajaan surga. Jika kamu ubah apa yang buruk di dalam dirimu, kamu akan menjadi baik.

“Di dalam kerajaanKu, Aku memandang segala sesuatu itu setara. Aku tidak membuang apapun. Aku ciptakan segalanya. Aku telah ciptakan pasangan-pasangan yang berlawanan: laki-laki dan wanita, cahaya dan kegelapan, kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan. Aku telah ciptakan ini semua untuk menunjukkan kepadamu. Di dalam kerajaanKu, Aku lakukan tugasKu tanpa melihat perbedaan. Kesetaraan ada di sana. Aku telah transformasikan (apa yang buruk) [menjadi baik].

“Seperti itu, jika kamu, dengan kesetaraan, membawa ke derajat kebaikan segala kualitas buruk yang ada di dalam dirimu, ribuan alam semesta yang di dirimu, dan keterikatan kepada keburukan dan perbedaan di dirimu, maka kamu akan menciptakan sebuah kerajaan surga di dalam dirimu. Itulah surga. Jika kamu membangun kerajaanku di dalam dirimu, itulah surga. Aku telah berikan kepadamu ilmu untuk mengubah keburukan menjadi kebaikan, dan Aku juga telah berikan semua kualitasKu kepadamu. Aku telah berikan kepadamu semua tugas-tugasKu. Aku telah berkata padamu untuk melakukan apa yang Aku lakukan, mengetahui apa yang Aku ketahui, memahami apa yang Aku pahami, bertindak apa yang Aku tindak, dan mewujudkan apa yang Aku wujudkan.

“Aku tunjukkan padamu bahwa kamu mampu melakukan segala yang Aku lakukan. Aku telah wujudkan kedamaian di dalam diriKu, dan kamu pun bisa mewujudkan kedamaian di dalam dirimu. Aku telah wujudkan kesetaraan di dalam diriku, dan kamu pun bisa mewujudkan kesetaraan di dalam dirimu. Aku memahami semua kehidupan dan melakukan tugasKu kepada mereka, dan mereka memujuKu. Kamu, juga, harus memahami dan melakukan tugasmu kepada semua kehidupan, dan mereka juga akan memujimu.”

Tuhan telah menunjukkan itu semua. “Jika kamu bisa melakukan apa yang Aku lakukan, jika kamu bisa meraih derajat kedamaian yang telah Aku raih, maka itulah rumahmu — kedamaian, surga. Itulah singgasanaKu, kursi keadilanKu, dan kerajaanKu. Kamu ada di kerajaan neraka, tetapi kamu harus mengubahnya menjadi kerajaan surga.”

Ini adalah sebuah pelajaran yang sangat dalam. Kita harus merenungkannya, kata Sang Bijak.

Sumber :“God’s Psychology” oleh M.R. Bawa Muhaiyaddeen.

Semoga Bermanfaat ....

Marilah Setiap detak-detik jantung.., selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...

Vicky
Halaqah Sirrul Barokah

Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik ... Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Cinta, Bahagia-Derita..., Awal dan Akhirnya ....


Bismillahi minal Awwali wal Akhiri.....
Allaahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad. Allahumma shalli 'alaihi wa sallim wa adzhib hazana qalbiy fin-dunya wal-aakhirah.............

Bismillahir-Rahmanir-Rahim:
Cinta pada awalnya adalah sebuah rasa ketertarikan yang muncul dari dalam hati terhadap sesuatu yang dipandangnya indah, menarik, menyenangkan dan dianggap dapat memenuhi harapan. Munculnya perasaan seperti ini, bisanya akan diikuti dengan reaksi di mana ia pun akan berusaha membuat dirinya agar dipandang indah, menarik, menyenangkan dan dapat memenuhi harapan bagi sesuatu yang ia cintai, hingga ia akan melakukan apa saja demi yang dicinta, apa pun akibatnya, baik bahagia maupun derita.

Jika hubungan antara yang mencintai dan yang dicintai ini dianggap ada keseimbangan, biasanya akan timbul apa yang disebut keharmonisan. Hubungan seperti ini jika berlangsung semakin lama, maka akan timbul ikatan batin yang semakin erat, bahkan susah untuk dipisah. Kecenderungan rasa cinta seseorang ini akan berbeda tergantung dari pengetahuan yang ia kenal dan kebiasaan ia berhubungan. Seseorang yang hidupnya hanya mengenal, mengetahui dan berhubungan dengan binatang dalam hutan, misalnya, mungkin saja ia akan cinta terhadap salah satu dari hewan yang dianggapnya paling dekat dengannya.

Sebenarnya pengertian cinta itu beraneka ragam, sebagaimana beraneka ragamnya benntuk cinta itu sendiri. Seperti cinta Allah kepada hamba-Nya, dan sebaliknya, cinta orang tua kepada anaknya dan sebaliknya, cinta yang terpadu antara dua pemuda lain jenis, cinta kepada kerabat dan sahabat, cinta seseorang terhadap barang miliknya, dsb.

Dalam sebuah Hadits qudsy, diriwayatkan dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW. dari Jibril a.s. dari Tuhan Yang Maha Agung Yang berfirman:

"Barang siapa yang menghina wali-Ku (kekasih-Ku), sesungguhnya ia telah terang-terangan memerangi-Ku. Tidaklah Aku rau-ragu melakukan seperti keraguan-Ku ketika mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman. Dia benci kematian dan Aku tidak mau menyakitinya, sedangkan kematian itu pasti ada. Tidak ada sesuatu yang paling Aku sukai yang bisa mendekatkan hamba-Ku dengan-Ku lebih dari melakukan kewajiban yang Aku perintahkan kepadanya. Dan senantiasa mendekati-Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunah sampai Aku mencintainya. Dan barang siapa yang telah Aku cintai, maka Aku akan mendengar, melihat, menolong, dan mendukungnya. (HR Ibnu Dunya, Al Hakim, Ibn Marduwaih, Abu Nua'im dan Ibnu Asakir dari Anas)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Nabi SAW. bersabda, "Jika Allah telah mencintai hamban-Nya, Allah berkata kepada Jibril a.s. 'Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia.' Maka Jinbril a.s. pun mencintainya, kemudian menyeru kepada para penduduk langit, 'Sesungguhnya Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah dia!' Maka penduduk langit pun mencintainya. Kemudian Allah memberikan pengabulan kepadanya di bumi. Dan jika Allah membenci seorang hamba, maka Malaikat Malik berkata, 'Saya tidak menganggapnya kecuali saya membencinya seperti kebencian Allah kepadanya.' " (HR. Muslim, dan At-Turmudzi)

Sabda Rasul SAW.: Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.: Seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW. perihal hari kiamat, "Kapankah datangnya hari kiamat?" Nabi SAW. bersabda. "Apa yang telah kamu persiapkan untuk hari itu?" laki-laki itu berkata, "Tak ada. Kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Nabi SAW. bersabda, "Kamu bersama orang yang kamu cintai." Kami tidak segembira itu ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Nabi SAW. Karena itulah, aku mencintai Nabi SAW., Abu Bakar, dan Umar dan berharap kelak bersama mereka, meskipun perbuatan baikku tidak akan pernah bisa menyamai perbuatan baik mereka. (HR. Bukhari)

Kamu bersama orang yang kamu cintai.., itulah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. yang mulia, yang perkataannya tak pernah berdusta hingga musuh-musuhnya pun sangat meyakini akan kebenaran setiap kata yang keluar dari lisannya. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Sa'ad bin Mu'adz r.a. bahwa ia berkata kepada Umayyah bin Khalaf, "Aku pernah mendengar Muhammad SAW. bersabda bahwa ia akan membunuhmu." Umayyah berkata, "Benarkah ia akan membunuhku?" Sa'ad berkata, "Ya." (Umayyah berkata), "Demi Allah! Jika Muhammad (SAW) mengatakan sesuatu, ia tak pernah berdusta." Maka Allah membunuhnya dalam Perang Badar. (HR. Bukhari)

Jika kita lihat kondisi sekarang, dari kebanyakan anak-anak muda yang sangat mengidolakan dan mencintai artis-artis dari pada Allah dan Rasul-Nya, kita pun sama perihatin. Semoga hal ini tidak berlangsung hingga mereka meregang nyawa, dan kita berharap mereka berubah pada waktunya beralih mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Berbagai Ungkapan Cinta

Cinta sebenarnya bukanlah sekedar sebuah kata atau bahasa, sehingga sulit diartikan dengan kata-kata, karena ia menyagkut rasa atau keadaan yang menyelimuti jiwa. Seperti kalau kita ingin mendefinisikan rasa manis, pahit, asam, indah, nikmat dan sebagainya. Meski kita ingin mencoba mengungkapkan dengan kata, maka yang sampai kepada kita hanyalah bayangan maya. Kita bisa mengetahui apa dan bagaimana cinta itu, jika kita mengalami dan merasakan keadaan dilanda cinta. Setelah kita merasakannya, mungkin akan mengatakan, oh, cinta..., inikah cinta? Meskipun demikian, banyak orang yang mencoba mengungkapkan dan menyimpulkan apa itu cinta, seperti keadaan yang mereka alami dan rasakan.

Abu Ali Ahmad Ar-Rudzambari berkata, "Cinta adalah kesetiaan." Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata,"Hakikat cinta jika kamu memberi, maka kamu memberi semua yang kamu miliki kepada orang yang kamu cintai, tanpa tersisa sedikit pun untukmu."

Al-Junaid pernah ditanya tentang cinta, lalu dijawab, "Cinta adalah masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat yang mencintainya." Maksudnya, orang yang mencintai itu selalu memuji-muji yang dicintainya, sehingga orang yang mencintai tenggelam dalam ingatan sifat-sifat yang dicintainya dan melupakan sifat-sifat dirinya sendiri dan perasaannya pada sifat-sifat yang dimilikinya.

Al Junaid berkata, Cinta itu berlebihan dalam kecenderungannya, tanpa berharap sesuatu." Dikatakan pula bahwa cinta itu kegelisahan dalam hati karena jatuh cinta kepada kekasih. Dikatakan, "Cinta itu suatu fitnah (ketidak-tenangan) dalam hati sanubari."

Dalam syair Ahmad bin Atha' dikatakan:

saya telah menancapkan satu tangkai cinta
pada penggemar cinta
namun belum ada satu pun yang tahu sebelumku
apakah cinta itu?
maka tangkai itu berdaun
menumbuhkan beberapa tangkai
membuahkan kasih sayang
lalu buah yang matang dan manis
ini pun berakhir dengan kepahitan
orang-orang yang asyik dimabuk cinta
jika mereka tenggelam dalam cinta
sesungguhnya cinta itu berasal dari kepahitan

Abu Yazid Al-Busthami berkata, "Cinta menganggap sedikit pemberian yang ia keluarkan, dan menganggap banyak pemberian kekasih kepadanya, walaupun sedikit." Shahal bin Abdullah berkata, "Cinta itu merangkul ketaatan dan menentang kedurhakaan."

Berkata Harits Al-Muhasibi, “Cinta itu rasa kecenderunganmu kepada sesuatu secara keseluruhan, kemudian kamu lebih mementingkan cinta iu dari pada dirimu, jiwamu atau hartamu, kemudian kesetiaanmu padanya, baik ketika berada di tempat sunyi atau tempat terbuka, kemudian ia memberitahukan kepadamu tentang keteledoran cintamu."

Ada yang mengatakan, "Cinta adalah api dalam hati yang dapat membakar apa saja selain yang dicintainya", Dikatakan pula, "Cinta itu mencurahkan segala kemampuan, sedangkan kekasihnya itu boleh berbuat apa saja yang dia mau." Berkata Ahmad An-Nuri, "Cinta itu membuka tabir dan membuka semua rahasia." Berkata Abu Ya'kub As-Susi, "Tidak benar suau cinta kecuali harus keluar dari penglihatan cinta menuju penglihatan kekasih dengan tidak mengetahui cintanya."

Energi Cinta

Dalam cinta terdapat sebuah energi yang mampu menggerakkan orang yang dilanda cinta ke arah mana cinta itu terpancar. Energi itu bisa bersifat positif atau negatif, tergantung jenis pengaruh cinta yang masuk dalam jiwa. Jiwa yang sedang terkuasai oleh cinta, biasanya akan timbul letupan-letupan yang merupakan obsesi yang memenuhi hatinya, hingga yang dicintai akan selalu teringat, terkenang, terbayang dalam khayalan, pikiran, dan akalnya. Dalam keadaan seperti ini akan timbul pula kreasi reaktif emosi dan rasionya untuk memuaskan dirinya agar ia bisa dengan sempurna menjadi kekasih dia yang ia cintai dan dia yang dicintai menjadi kekasih dirinya. Kreasi-kreasi itu akan sangat banyak bentuknya, baik yang keluar melalui lisan maupun sikap. Hal inilah yang akan menjadi daya dorong yang kuat bagi orang yang dilanda cinta, melakukan aktivitas dengan penuh optimis yang dalam taraf tertentu akan keluar dari pertimbangan rasio dirinya.

Dalam kitab Risalah Al-Qusyairiyah, Abul Qosim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An Nasaburi menulis, bahwa Abu Bakar Muhammad Al-Kattani berkata, "Pernah terjadi dialog cinta di Makkah Al-Mukarramah di waktu musim haji. Para syaikh (guru besar) menyampaikan pendapatnya, sedang Al-Junaid pada saat itu ia adalah yang paling muda usianya. Mereka berkat kepada Al-Junaid, 'Sampaikanlah pendapatmu wahai orang Irak.' Maka Al-Junaid menundukkan kepalanya, maka kedua matanya mencucurkan air mata, kemudian berkata, 'Seorang hamba yang telah meninggalkan dirinya untuk mengingat Tuhannya, berdiri menunaikan hak-hak Tuhannya, memandang-Nya dengan mata hatinya sampai hatinya membakar identitas dirinya, meminum kejernihan minuman dari gelas cintanya, sehingga tersingkaplah tabir Tuhan Yang Maha Perkasa dari kegaiban-Nya. Jika hamba ini berbicara, maka ia berbicara dengan nama Allah. Jika bergerak, maka itu karena perintah Allah. Jika diam, maka ia selalu bersama Allah. Dia selalu dengan nama Allah dan untuk Allah serta selalu bersama Allah.' Maka menangislah para syaikh seraya mengatakan, 'Tiada ucapan yang lebih baik dari ucapanmu, semoga Allah memberikan mahkota kepada orang-orang arif.'"

Di atas adalah gambaran seorang arif Al-Junaidi yang jiwanya dikuasai oleh cinta kepada Tuhannya, hingga energi cinta itu mempengaruhi seluruh susunan sarafnya yang mendorong keluarnya air mata, yang menguasai seluruh emosi dan rasionya, hingga bicara, sikap, gerak dan diamnya tidak lepas dari unsur cinta kepada kekasih yang ia cinta,Tuhan Yang Maha Kuasa.

Enegi yang terpancar dari cinta inilah yang banyak mendorong dan melahirkan manusia-manusia kuat, cerdas, ilmuwan, filosof, sastrawan, seniman, teknokrat, negarawan dan orang-orang ternama lainnya. Enegi ini dapat mengangkat derajat manusia ke tempat yang paling tinggi dan energi ini pulalah yang dapat menjerumuskan derajat manusia ke tempat yang paling hina. Sehingga energi ini pula yang mendorong dan melahirkan manusia-manusia bejad, hina, jahat dan terkutuk lainnya. Cinta bagaikan air katalisator yang jernih dan suci. Air ini akan menjadi berubah rasa maupun warnanya, menjadi madu atau pun racun, tergantung manusia yang mencampurinya. Manusia yang baik jika ia mencintai kebaikan, maka akan bertambah kuat kebaikannya. Begitu pula manusia jahat jika ia mencintai kejahatan, maka akan bertambah kuat kejahatannya.

Hati yang telah dipenuhi cinta, pengaruhnya akan menyebar ke seluruh relung-relung jiwa, hingga tak satu pun rongga-rongganya sudi dimasuki oleh unsur-unsur lain selain unsur kekasih yang ia cinta. Semua hancur dan hangus terbakar, termasuk unsur dirinya. Tak ada lagi wujud, selain wujud kekasih yang ia cinta. Tak ada lagi waktu, ruang, rasa, pikiran, logika, harapan, kata, kalimat, penglihatan, pendengaran dan seluruh unsur kehidupan tak sedikit pun tersisa untuk dirinya, kecuali telah diserahkan semua dan menjadi milik kekasih yang ia cinta. Begitulah cinta bahagia dan deritanya tiada tara, dari awal hingga akhirnya. Cinta, oh.... cinta.


Wallahu a'lam bish-shawab.

Marilah Setiap detak-detik jantung.., selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...



Vicky
Halaqah Sirrul Barokah

Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik ... Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

MENEMBUS TUJUH LAPIS LANGIT.....




Sohabat Mu’az bin Jabal rodiyallohu ‘anhu menyampaikan bahwa ketika beliau sedang bersama Rosululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam,Rosululloh sollalloh ‘alahi wa sallam menyampaikan sebuah hadis yang sangat ditekankan untuk diperhatikan sehingga beliau sampai bersabda, “Aku sampaikan sebuah hadis yang apabila kamu pelihara - apabila kamu perhatikan, maka bermanfaat bagimu dan apabila kamu sia-siakan - apabila kamu sepelekan, maka kamu tidak akan punya hujjah - tidak akan punya alasan, di hadapan Allah ‘azza wa jalla”

Rosululloh sollallohu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa Allah menciptakan tujuh Malaikat dan tujuh langit, satu Malaikat menjadi penjaga pintu dari satu langit. Malaikat tersebut akan memeriksa setiap orang yang amalnya diangkat ke langit oleh Malaikat Hafazoh.

LANGIT PERTAMA

Ada amal yang bersinar bagaikan matahari dan Malaikat Hafazoh yang membawanya memuji banyak dan bersihnya amal tersebut, Malaikat penjaga pintu langit pertama menghentikannya seraya berkata, “Tamparkan amal ini pada wajah pelakunya, aku pemeriksa gibah, aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal para pelaku gibah untuk melewatiku - aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain untuk melewatiku”

LANGIT KEDUA

Ada amal lain yang berkilauan cahayanya, banyak dan dipuji oleh Malaikat Hafazoh yang membawanya. Amal ini berhasil melewati langit pertama karena pelakunya tidak pernah menceritakan keburukan orang lain. Tetapi ketika sampai di pintu langit kedua, penjaga langit kedua menghentikan seraya berkata, “Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya, sesungguhnya ia punya maksud duniawi dengan amalnya - ia mengejar kekayaan, ia mengejar kekuasan dengan amalnya - aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya melewatiku”

Dilaknatlah pelakunya oleh para Malaikat sampai sore hari.

LANGIT KETIGA

Ada lagi Malaikat Hafazoh yang naik ke langit dengan membawa amal yang sangat memuaskan, penuh oleh sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang Malaikat Hafazoh memuji dan menganggap sedemikian banyaknya. Langit pertama dan kedua terlewati, tapi begitu sampai ke langit ketiga, Malaikat Penjaga pintu langit ketiga berkata, “Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya, saya Malaikat pemeriksa kibr (kesombongan), aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya melewatiku, karena ia seorang yang takabbur – seorang yang sombong pada orang lain di lingkungannya - ia merasa dirinya lebih dari yang lain”.

LANGIT KEEMPAT

Ada lagi amal yang dibawa naik oleh Malaikat Hafazoh. Amal itu bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, dengan puasa, shalat, hajji dan umroh. Begitu sampai ke langit yang keempat, Malaikat Penjaga pintu langit keempat itu berkata, “Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya, saya Malaikat pemeriksa ujub – pemeriksa rasa bangga diri, yeuh aing, aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat, sebab jika dia beramal, dia selalu ujub.”

LANGIT KELIMA

Ada lagi Malaikat Hafazoh naik dengan membawa amal seorang hamba yang diiring, diantar seperti pengantin. Amalnya begitu bagus, seperti jihad, ibadah hajji dan umroh, cahayanya pun berkilauan bagaikan matahari. Ketika sampai di langit kelima, Malaikat Penjaga pintu langit kelima berkata, “Saya Malaikat pemeriksa hasud (iri / dengki), dia suka hasud kepada orang lain yang mendapat nikmat Allah – ia iri, ia dengki pada orang lain, dia itu benci pada yang membuat Allah rido. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat”.

LANGIT KEENAM

Ada Malaikat Hafazoh yang naik dengan membawa amal yang lain, membawa wudu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, hajji, umroh. Namun, ketika sampai ke langit yang keenam, Malaikat Penjaga pintu langit keenam berkat, “Saya Malaikat pemeriksa rahmat – pemeriksa kasih sayang, tamparkan amal yang nampaknya bagus ini ke wajah pelakunya, ia tidak pernah mengasihi orang lain, apabila ada orang yang mendapatkan musibah, maka dia merasa senang. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat”.

LANGIT KETUJUH

Ada pula Malaikat Hafazoh yang naik ke langit dengan membawa amal hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan waro’. Suara amal itu bergemuruh bagaikan guntur, cahayanya pun bagaikan petir. Ketika sampai ke langit yang ketujuh, Malaikat Penjaga pintu langit ketujuh berkata, “Saya pemeriksa sum’ah – pemeriksa rasa ingin mashur dan populer, sesungguhnya pemilik amal ini ingin termashur dalam kumpulan-kumpulan, selalu ingin tinggi diantara kawan-kawannya dan ingin mendapat pengaruh di hadapan para tokoh. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amal itu lewat. Tiap-tiap amal yang tidak bersih karena Allah, maka itulah riya. Allah tidak menerima dan tidak mengabulkan amal orang-orang riya”.

DI HADHROTULLOH

Ada pula Malaikat Hafazoh yang naik dengan membawa amal hamba, yakni shalat, zakat, puasa, hajji, umroh, akhlak terpuji dan pendiam tidak banyak omong serta penuh zikir kepada Allah Yang Maha Tinggi, lolos melewati ketujuh langit. Kemudian diiring oleh Malaikat ketujuh langit sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampai ke hadirat Allah Yang Maha Suci. Para Malaikat berdiri di hadapan Allah jalla jalaluh. Semua bersaksi bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan diikhlaskan karena Allah.

Tapi, Allah Yang Maha Tinggi berfirman, “Kalian Hafazoh, pencatat amal hamba-Ku, sedang Akulah yang mengawasi hatinya. Amal ini tidak karena Aku, yang dimaksudkan olehnya adalah selain dari-Ku, tidak diikhlaskan kepada-Ku. Aku lebih mengetahui apa yang dimaksud olehnya dengan amal itu. Aku laknat ia, ia menipu manusia dan menipu kalian, tapi Aku tak tertipu olehnya. Akulah Yang tahu akan segala yang gaib. Akulah yang melihat isi hatinya. Tidak samar bagi-Ku apapun yang samar. Tidak tersembunyi bagi-Ku apapun yang tersembunyi. Ilmu-Ku terhadap yang terjadi sebagaimana ilmu-Ku terhadap yang akan terjadi. Ilmu-Ku terhadap yang lalu se-bagaimana ilmu-Ku terhadap yang akan datang. Ilmu-Ku terhadap mereka yang terdahulu sebagaimana ilmu-Ku terhadap mereka yang kemudian. Aku mengetahui yang rahasia dan yang samar. Bagaimana hamba-Ku dapat menipu-Ku dengan amalnya ? Dia hanyalah bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku Yang mengetahui segala yang gaib. Laknat-Ku tetap baginya.”

Berkata Malaikat ketujuh langit dan 3000 Malaikat yang mengiringinya, “Ya Tuhan kami tetap baginya laknat-Mu dan laknat kami semua.”

Berkata pula penghuni langit, “Tetap baginya laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat.”

MENYELAMATKAN DIRI

Ketika mendengar hadis ini Sohabat Mu’az bin Jabal rodiyallohu ‘anhu menangis terisak-isak dan berkata, “Ya Rosulalloh, bagaimana aku bisa selamat dari yang barusan diceritakan ?”

Rosululloh bersabda, “Hai Mu’az, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan !”

Sahabat Mu’az bin Jabal rodiyallohu ‘anhu bertanya kembali, “Engkau adalah Rosululloh, sedangkan saya ini hanya si Mu’az bin Jabal. Bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana bisa terlepas dari bahaya tersebut ?”

Rosululloh menjawab, “Begitulah wahai Mu’az. Seandainya dalam amalmu ada kelengahan dan kekurangan, maka :

* Tahanlah lisanmu dari menjelekkan orang lain, terutama menjelekkan para ulama – para ahli Al-Quran.
* Tolaklah keinginan menjelekkan orang lain dengan mengingat kejelekan dirimu sendiri.
* Jangan membersihkan dirimu sendiri dengan menjelekkan orang lain.
* Jangan mengangkat dirimu dengan merendahkan, menekan dan menjatuhkan orang lain.
* Jangan pamerkan amalmu agar diketahui orang lain.
* Jangan mengurusi dunia sehingga melupakan urusan akhirat.
* Jangan berbisik dengan seseorang ketika ada orang lain.
* Jangan takabbur kepada orang lain, nanti luputlah kebaikanmu di dunia dan akhirat.
* Jangan berkata kasar di majlis sehingga orang takut terhadap keburukan akhlakmu. Jangan mengungkit-ungkit kebaikan pada orang lain.
* Jangan merobek-robek orang lain dengan lisanmu, nanti kamu dirobek-robek anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman Allah ta’ala : “wan nasyitoti nasyto” (di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia), yaitu mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya.

Sohabat Mu’az bin Jabal bertanya kembali, “Ya Rosulalloh, siapa yang yang kuat menanggung penderitaan seperti ini ?

Rasululloh menjawab, “Wahai Mu’az, yang aku ceritakan tadi padamu itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah ta’ala. Cukuplah bagimu mencintai orang lain sebagaimana mencintaimu sendiri dan bencilah untuk orang lain apa yang kamu benci untuk dirimu sendiri. Bila engkau demikian niscaya dirimu akan selamat dan terhindar.”

Insya Allah Bermanfaat...
Semoga Allah Meridhai kita semua dengan Nur al Lathief Jala Jala Luhu




Vicky
Halaqah Sirrul Barokah